Visit Batang "an Old District Land Javanese Culture"

Anda diperbolehkan mengutip atau mengambil informasi dari blog ini dengan tetap mencantumkan alamat kami http://batanggallery.or.id

Selasa, 13 November 2012

Sintren Batang


Kostum Penari Sintren Batang | Dok. Gallery Photo Kabupaten Batang

Formasi Sintren Batang | Dok. Gallery Photo Kabupaten Batang
Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pantura yang juga Batang masuk di deretannya, tarian yang berbau mistis  penggambaran cerita cinta kasih Sulasih (Seorang Putri dari Desa Kalisalak) dan Raden Sulandono (Putra Bahurekso dengan Rantansari). Namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantansari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil rohnya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.
Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang. Pengembangan tari sintren sebagai hiburan rakyat, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan pelawak. 
Sumber cerita : www.batikmarkets.com/batik_pekalongan.php

Senin, 12 November 2012

Omah Tani Blado

Omah tani yang berdiri di daerah kecamatan Blado yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Bandar tepatnya di jalan Bandar - Kembanglangit, merupakan salah satu bukti kekuatan yang hadir untuk memperjuangkan nasib petani daerah.

Jalan Masuk Ke Omah Tani Blado - Batang

Handoko Wibowo adalah sosok pelopor pergerakan petani daerah yang kotra dengan ketidak adilan yang menimpa petani - petani di Kabupaten Batang. Namun di lain sisi memperjuangkan nasib petani daerah, bangunan yang didirikan dengan nama Omah Tani memiliki keunikan. Jika boleh menyebutnya bangunan ini adalah rumah seninya petani daerah. Seorang seniman tidak akan menirukan karya orang lain, namun akan terus bekarya menghasilkan karya sendiri. Kemungkinan hasilnya boleh sama namun caranya akan selalu berbeda.

Bangunan Utama Omah Tanu

Kolam Depan Omah Tani

Lentera Tua Bernuansa Klasik Sebagai Hiasan Lorong Bangunan

Botol Bekas Yang Unik Sebagai Hiasan Lorong Bangunan

Potongan Kayu Yang Tersusun Menjadi Pagar Pintu Samping Rumah

Kolam Samping Bangunan Utama Dengan Potongan Batu Stalatif Mati Yang Berdiri di Tepian Kolam

Petani berkarya selama 3 bulan lamanya untuk menghasilkan panen yang dapat membawa kemakmuran bagi mereka. Cara yang dilakukannya dari mencangkul hingga panen berbeda-beda, inilah proses seni bagi para petani.

Selasa, 06 November 2012

Hidup di Tengah Alas Roban

Di Desa Sentul Kecamatan Gringsing tepatnya tengah hutan, di atas sebuah bukit dekat dengan peninggalan goa Jepang. Terdapat keluarga yang hidup seperti di sebuah pengasingan. Akan tetapi sebenarnya keluarga ini hidup di tengah hutan dikarenakan ekonomi yang kurang, hingga mereka memutuskan hidup disana dan mengelola tanah sekitarnya. 

Kurang lebih selama 17 mereka menetap dengan keadaan memprihatinkan. Rumah dengan bambu yang agak doyong ke arah timur, berpagar getek bambu, dan beratapkan dami. Pak Purwadi adalah kepala keluarganya, dia bekerja menggarap tanah yang ada di sekitar rumahnya untuk tetap dapat membuat asap dirumahnya. Keadaan ekonominya serba kekurangan, ditambah jauhnya jarak antara rumahnya dengan rumah penduduk terdekat yang menjadikan warga lain tak mengetahui keadaan yang sedang terjadi.

Rumah Pak Purwadi

Jauh dari kebutuhan dan fasilitas negara menjadikan mereka tak merasakan terangnya malam. Hanya lampu minyak yang dapat dijadikan teman sebelum mata terpejam. Sesekali mereka menggunakan lampu charger yang setiap sorenya harus dibawa ke rumah penduduk terdekat yang jaraknya kurang lebih 2 km. Lampu charger hanya bertahan tidak lebih dari 3 jam dan setelahnya kembali padam. Pernah berencana memasang kabel dari rumah penduduk terdekat namun bahaya karena terlalu jauh

Di tengah Alas Roban yang dikenal sintru tersebut masih banyak binatang buas yang berkeliaran. Namun baginya mereka adalah tetangga yang berdampingan dan tidak pernah mengganggunya selama tidak ada yang membangunkannya dari kebringasannya. Menurutnya makhluk hidup itu saling menghormati, jika kita hormati maka mereka menghormati

Pak Purwadi di lorong rumahnya
Pak Purwadi memiliki 3 anak. Mereka semua tidak pernah menikmati bangku sekolah. Namun sopan santun telah tertanam di diri mereka. Mereka berbicara jawa krama yang fasih layaknya abdi kraton. Sekolah mereka adalah lingkungannya yaitu alam. Mereka tahu apa yang berguna untuknya dan apa yang tidak berguna baginya.

Putra Pak Purwadi (no 2 dari kiri) dan 2 temannya (no 1 dan 2 dari kanan)
Mereka berharap dapat merasakan aliran listrik. Gallery Photo Kabupaten Batang mengajak pembaca yang merasa tergugah hatinya untuk membantu mereka. Gallery Photo Kabupaten Batang telah memiliki solusi untuk membantu mereka dengan memasang panel surya. Perkiraan harga sekitar 2 juta. Namun untuk pendanaan belum ada. Jika Anda memiliki solusi hub kami.
Ide, pesan, kiritik dan saran Anda sangat berarti untuk pengembangan Batang Gallery.